Powered By Blogger

Selasa, 03 November 2009

makalah pendidikan

BAB I 
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sejarah pendidikan merupakan hal yang paling menarik untuk diperbincangkan karena selalu kisi-kisi yang membuat perhatian kita terseletif terhadap pertumbuhan dan perkembangan Islam baik secara umum maupun pendidikan Islam di Indonesia pada khususnya, sehingga hal yang demikian dapat menganalis kembali ilmu sejarahwan, sesuai dengan istilah jasmirah (jangan sekali-kali melupakan sejarah) maka dari judul yang diberikan dalam penugasan ini sangat mempengaruhi pada perkembangan keilmuan kita khususnya dalam bidang sejarah pendidikan Islam.  
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan yaitu sebagai berikut: 
a. Bagaimana proses masuknya Islam di Indonesia? 
b. Bagaimana perkembangan Islam di Indonesia?
c. Bagaimana kebijakan pemerintah Belanda dan Jepang dalam pendidikan Islam?
d. Bagaimana kebijakan pemerintah RI dalam perkembangan dan pertumbuhan pendidikan Islam?  



C. Tujuan Penelitian 
Tujuan masalah ini sebagai sarana sekaligus suatu arah dalam menjalankan tugas. Maka berdasarkan pada rumusan masalah dapat dibuat tujuan masalah yaitu sebagai berikut:
a. Penulis ingin mengetahui dan memahami sejarah perkembangan Islam di Indonesia 
b. Agar dapat memenuhi tuntunan dari Tri Dharma tinggi khususnya dharma pendidikan Islam
c. Untuk mengetahui tugas mata kuliah sejarah pendidikan  


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Proses Masuknya Islam di Indonesia 
Melacak sejarah masuknya Islam ke Nusantara bukanlah hal mudah. Ada beberapa pendapat yang hingga kini masih diperdebatkan. Setidaknya ada tiga pendapat yang menjelaskan tentang kedatangan Islam ke Nusantara. Diantara pendapat tersebut adalah pendapat Snouck Hurgronje yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah di anak benua India. Tempat-tempat seperti Gujarat, Bengali, dan Malabar merupakan asal masuknya Islam. Pendapat tersebut didasarkan pada tidak terlihatnya peran dan nilai-nilai Arab ada pada Islam pada masa-masa awal, yakni pada abad ke 12 atau 13. Pendapat ini juga didukung dengan hubungan yang sesiduah terjalin lama antara wilayah Nusantara dengan daratan hindia.
Pendapat kedua adalah pendapat yang menyatakan bahwa tanah Persia merupakan tempat awal Islam datang ke Nusantara pendapat ini didasarkan pada kesamaan budaya yang dimiliki kelompok masyarakat Islam di Indonesia dengan penduduk Persia, misalnya tentang 10 Muharram yang dijadikan sebagian hari peringantan wafatnya Hasan dan Husain cucu Nabi Rasulullah selain itu, di Sumatara Bara ada pula tradisi Tabut, yang berarti Kerada, juga untuk memperingati Hasan dan Husain. Pendapat ini menyakini bahwa Islam masuk ke wilayah Nusantara pada sekitar abad ke-13. Wilayah pertama dijamah adalah samudara pasai. 
Berbeda dengan pendapat sebelumnya pendapat terakhir ini menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia datang langsung datang dari Mekkah dan Madinah. Waktu kedatangannya tidak pada ke-12 atau ke-13, melainkan pada awal abad ke-7. Menurut pendapat ini, bahwa Islam telah masuk ke Indonesia pada awal Hijriyah, bahkan pada masa pemerintahan khulafaurrasyidin. 
Menurut pendapat ini, bahwa menjelang seperempat abad ke-7 sudah berdiri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatara. Di perkampungan ini orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk local dan membentuk komunitas-komunitas Muslim. Sebuah literatur kuno Arab yang ditulis oleh Buzurg Bin Sharhrial Arram Hurmuzi pada Tahun 1000 memberikan gambaran ada perkampungan-perkampungan Muslim yang terbangun di wilayah kerajaan Sriwijaya. Hubungan Sriwijaya dengan kekhalifahan Islam di Timur tengah terus berlanjut hingga masa khalifah Umar bin Abdul Aziz. 
Tak diketahui Sri Invdravarman selanjutnya memeluk Islam atau tidak. Meski demikian, hubungan dan pemerintahan Islam di Arab menjadi penanda babak baru Islam di Indonesia. Jika awalnya Islam masuk memainkan hubungan ekonomi dan dagang maka telah berkembang menjadi hubungan politik keagamaan. Dan pada kurun waktu ini juga, Islam mengawali kiprahnya memasuki kehidupan raja-raja dan kekuasaan di wilayah-wilayah Nusantara. 
 
B. Perkembangan Islam di Indonesia 
1. Perkembangan Islam di Sumatera
Di Sumatara abad XIII-XV M telah berdiri kerajaan Samudra Pasai dan merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan samudra Pasai terletak di Kampung Samudra tepi sungai Pasai berturut-turut sebagai berikut: (1) Sultan Al-Malikus Shaleh, (2) Sultan Al-Malikuz Zahir I, (3) Sultan Al-Malikuz Zahir II, (4) Sultan Zainal Abidin, (5) Sultan Iskandar. 
Adanya jalur perhubungan dengan Gujarat menyebabkan perdagangan Samudra Pasai mengalami perkembangan. Samudra Pasai telah mengadakan hubungan dengan Sultan Delhi di India. Maka dengan hubungan itu perkembangan Islam semakin bertambah pesat. 
2. Perkembangan Islam di Jawa
Jalur perhubungan antara Pasai Malaka di satu pihak dengan Jawa di lain pihak sangat lancar. Banyak pedagang dari Jawa berdagang ke Pasai dan Malaka. Sebaliknya bamyak pula pedagang dari Pasai dan Malaka berdagang ke Jawa sambil berdakwah menyebarkan agama Islam. Bahkan banyak pula ulama berdatangan ke Jawa untuk menyebabkan agama Islam Islam di kota-kota yang masih dikuasai kerajaan Hindu.  
3. Perkembangan Islam di Sulawesi
Pelabuhan Gersik di Jawa Timur pada abad XVI mempunyai arti penting dalam perdagangan penyebaran agama Islam. Tidak jauh dari situ berdiamlah Sunan Giri. Salah seorang Wali Songo yang cukup banyak jasanya dalam pemerintahan Giri dan penyebaran agama Islam.
Sunan Giri menyelenggarakan pesantren yang banyak didatangi santri dari luar Jawa seperti dari ternate, Hitu dan lain-lain. Beliau mengirimkan murid-muridnya ke Madura, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Para pedagang dan nelayan yang telah mendapatkan ajaran Islam di Giri setelah kembali ke daerahnya berusaha menyebarkan agama Islam, termasuk para pedagang dari Makassar dan Bugis. 
Di Sulawesi pada abad XVII telah berdiri kerajaan Hindu Gowa dan Tallo, penduduk tidak sedikit yang telah memeluk agama Islam karena hubungannya dengan kesultanan Ternate dalam rangka menghadapi pertogis. Pada permulaan abad XVII raja-raja Gowa dan Tallo telah masuk Islam, seperti raja Gowa Deang Manrabaia dan Raja Tallo yang bergelar Sultan Abdullah.  
4. Perkembangan Islam di Kalimantan 
Pada abad XVII islam memasuki daerah kerajaan Sukadana. Bahkan pada tahun 1590 kerajaan Sukadana resmi menjadi Giri Kusuma, setelah di gantikan putranya, Sultan Mahmud Syarifuddin. Beliau banyak berjasa dalam mengembangkan ajaran islam karena bantuan seorang muballig bernama Syekh Syamsuddin. Penamaan sunan Giri Kusuma mungkin juga terkena pengaruh ajaran sunan Giri
Di Kalimantan selatan pada abad XVI M masih ada kerajaan Hindu antara lain kerajaan Banjar, kerajaan Negaradipa, kerajaan Kahuripan, kerajaan Daha. Kerajaan ini berhubungan dengan kerajaan Majapahit.
Ketika kerajaan demak berdiri, para pemuka di Demak segera menyebarkan agama islam ke Kalimantan selatan. Raja Bandar Raden Samudra masuk agama islam dan mengganti nama dengan Suryatullah. Sultan Suryatullah dengan bantuan Demak dapat mengalahkan kerajaan Majapahit. Setelah itu agama Islam semakin berkembang di Kalimantan.
5. Perkembangan islam di Maluku dan pulau-pulau sekitar
Raja Ternate yang pertama-tama memeluk agama islam ialah Sultan Mahrum (1465-1486). Penggantinya adalah Sultan Zainul Abidin seorang raja yang sangat besar jasanya di Maluku dan Irian, bahkan sampai ke philipina. Raja Tidore Jamaluddin, demikian juga raja Jailolo masuk agama islam dan mengganti nama menjadi Sultan Hasanuddin. Selanjutnya raja Bacan pada tahun 1520 masuk islam bernamakan sultan Zainal Abidin. Penyair agama islam di Maluku, Sulawesi, dan Jawa mengikuti alur perdagangan. Bahkan sultan Giri berhasil mengikat perjanjian dengan raja Teluk Lombok, Subawa dan Bima untuk mengakui kekuasaan sunan GIri.
Perkembangan islam tidak hanya tergantung pada raja-raja, tetapi peran muballig juga menentukan. Pada abad XVII muncul ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Abdur Rauf Singkil, Syekh Nuruddin Ar Raniri yang letiganya dari Aceh dan Syekh Yusuf Tajul Khlawati dari Makasar. Pada abad itu umat Islam menghadapi penjajah Belanda dengan membawa agama Nasrani dan menyebarkan agama itu agar di Peluk oleh rakyat yang telah beragama islam. 

C. Kebijakan-kebijakan Belanda
a. Masa Penjajahan Belanda
Sebagai penjajah pada umumnya mereka pikiran Achiavelli yang menyatakan "agama sangat diperlukan bagi pemerintah penjajah, dipakai untuk menjinakkan dan menaklukan rakyat aliran agama yang dianggap palsu oleh pemeluk agama yang bersangkutan harus di bawa untuk memecah belah dan agar mereka berbuat untuk mencari bantuan kepada pemerintah, salain itu janji dengan rakyat tak perlu ditepati jika merugikan dan tujuan dapat menghalalkan segala cara  
b. Masa Penjajahan Jepang
Adapun kebijakan-kebijakan Jepang terhadap pendidikan islam yaitu sebagai berikut :
1. Kantor urusan agama dimasa Jepang disebut Kantor Sumubi yang di pimpin oleh ulama islam sendiri
2. Pondok pesantren yang besar-besar sering mendapat kunjungan dan bantuan-bantuan dari Jepang.
3. Sekolah negeri di beri pelajaran budi pengerti yang isinya identik dengan ajaran agama.
4. Pemerintah mengizinkan berdirinya sekolah tinggo islam di Jakarta yang dipimpin oleh K.H Wahid Hasyim, Kahar Muzakir dan Bung Hatta.
5. Para ulama' islam bekerja sama dengan pemimpin-pemimpin Nasionalisme di izinkan membentuk barisan membela tanah air

D. Kebijakan-kebijakan Pemerintah Republik Indonesia dalam Pendidikan Islam.
Di tengah-tengah berkobarnya revolusi fisik pemerintah RI tetap membina pendidikan agama pada khususnya. Pembinaan pendidikan agama itu secara formal institusional dipercayakan kepada Departemen agama dan Departemen P dan K (Dep dik Duk) oleh karena itu maka dikeluarkan peraturan bersama antara Departemen tersebut untuk mengelola pendidikan agama di sekolah-sekolah umum negeri (negeri dan swasta)
Pada tahun 1950 di bina kedaulatan Indonesia telah pulih untuk seluruh Indonesia, maka rencana pendidikan agama untuk seluruh wilayah Indonesia makin di sempurnakan dengan di bentuknya panitia bersama yang di pimpin oleh Prof. Mahmud Yunus dari Departemen Agama dan Mr. Hadi dari Departemen P dan K hasil dari panitia itu SKB yang dikeluarkan pada bulan Januari 1945. isinya adalah:
1. Pendidikan agama di berikan mulai kelas IV sekolah rakyat
2. Di daerah-daerah yang masyarakat agamanya kuat, maka pendidikan agama di berikan mulai kelas I SR dengan catatan tidak berkurang dibandingkan dengan sekolah lain yang pendidikan agamanya diberikan kelas IV.
3. Di sekolah lanjutan tingkat pertama dan tingkat atas (umum dan juruan)
4. Pendidikan agama di berikan pada murid-murid sedikitnya 10 orang dalam satu kelas dan mendapatkan izin dari orang tuanya.
Pengakuan guru agama, biaya pendidikan agama dan materi pendidikan agama di tanggung oleh Departemen Agama. 


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari kajian pustaka di atas maka dapat di simpulkan yaitu sebagai berikut:
a. Islam masuk ke Indonesia, ada beberapa pendapat yang hingga kini masih di perdebatkan di antaranya adalah pendapat Snouck Hurgronje menyatakan bahwa islam masuk ke Indonesia dari wilayah-wilayah dia anak Benua India yakni pada abad ke 12-13 M. yang kedua berpendapat bahwa tanah Persia merupakan awal islam datang langsung dari Mekkah dan Madinah yaitu pada abad ke 12-13, melainkan pada awal ke-7 M
b. Perkembangan islam di Indonesia dari :
Perkembangan islam di Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan di Maluku dan pulau-pulau sekitarnya.
c. Kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda dan Jepang dalam pendidikan islam di Indonesia, bangsa Belanda juga mendukung tentang pendidikan islam di Indonesia akan tetapi, hanya di jadikan alat untuk menghancurkan rakyat aliran islam.
d. Kebijakan-kebijakan pemerintah RI dalam pendidikan islam ini tetap membina dalam perkembangan dan pertumbuhan pendidikan islam, sehingga pemerintah membuat peraturan yang untuk perkembangan tersebut.
 
B. Saran-saran
Kami selaku tim penyusun makalah ini menyarankan untuk tidak mempunyai sifat iri dan sombong, walaupun kita termasuk makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk yang lain, setelah anda membaca makalah ini, hendaknya saudara mampu mengambil hikmah dari makalah ini yang kami buat sehingga kita dapat mengurangi rasa jenuh dan lupa dan kami selaku insan yang tak lepas dari salah. Maka kami sangat mengharap kritik konstruktif apabila makalah ini kurang sempurna


DAFTAR PUSTAKA

Subchi Imam. Sejarah Pendidikan Islam. PT. Listafariska Putra Jakarta, 2006.
Depak RI. Pendidikan Agama Islam. Jakarta Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam 2000.

Depak RI. Sejarah Kebudayaan Islam. Jakarta Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam 1996/1997.





makalah filsafat pendidikan.

BAB I
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan, manusia memiliki rasionalitas berpikir untuk memecahkan masalahnya, baik berupa reaksi, aksi maupun keinginan (cita-cita). Pengertian masing-masing suatu kesimpulan sebagai belum final, valid, tidak mutlak dan lain sebagainya, memberi kebebasan untuk menganut atau menolak suatu aliran. Sikap demikian pra kondisi bagi perkembangan aliran-aliran filsafat, salah satunya adalah esensialisme
   
B. Rumusan Masalah
a. Pengertian filsafat pendidikan esensialisme 
b. Sejarah lahirnya ajaran esensialisme
c. Dasar filosofis filsafat pendidikan esensialisme 
d. Karakteristik filsafat pendidikan esensialisme
e. Teori pendidikan esensialisme
f. Tokoh-tokoh esensialisme dan pandangannya

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Esensialisme
Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia. 
Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Menurut esensialisme pendidikan harus bertumpu pada nilai-nilai yang telah teruji ketangguhannya, dan kekuatannya sepanjang masa sehingga nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya / sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang berbentuk secara berangsur-angsur melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, di dalam telah teruji dalam gagasan-gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu. 
   
B. Sejarah Lahirnya Aliran Esensialisme
Esensialisme muncul pada zaman Renaissance, ia memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh flexibilitas dimana terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. 
Dengan demikian Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikir esensialisme, karena timbul di zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan ciri modern. Aliran muncul sebagai reaksi terhadap simbolisme mutlak dan dogmatis, abad pertengahan. Maka disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta, yang memenuhi tuntutan zaman.  

C. Dasar Filosofis filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialime dalam melakukan gerakan pendidikan bertumpu pada mazhab filsafat idealisme dan realisme, meskipun kaum idealisme dan kaum realisme berbeda pandangan filsafatnya, mereka sepaham bahwa :  
a. Hakikat yang mereka anut makna pendidikan bahwa anak harus menggunakan kebebasannya, dan ia memerlukan disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya sebelum sendiri dapat mendisiplinkan dirinya. 
b. Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya mengandung makna pendidikan bahwa generasi perlu belajar untuk mengembangkan diri setinggi-tingginya dan kesejahteraan sosial. 
   
D. Karakteristik Filsafat Pendidikan Esensialisme 
Ciri-ciri filsafat pendidikan esensialisme yang disarikan oleh Welli am.c.Bagley adalah sebagai berikut :  
1. Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam jiwa. 
2. Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia. 
3. Mendisiplin diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui perjuangan tidak pernah merupakan pemberian. 
4. Esensialisme menawarkan teori yang kokoh kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progressive) memberikan sebuah teori yang lemah. 

E. Teori Pendidikan Esensialisme  
1. Tujuan Pendidikan 
Tujuan pendidikan esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, dasar bertahan sepanjang waktu untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang tepat untuk membentuk unsur-unsur yang inti (esensiliasme), sebuah pendidikan sehingga pendidikan bertujuan mencapai standart akademik yang tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan. 
2. Metode pendidikan
a. Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered) 
b. Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan, dan mereka harus dipaksa belajar. 
c. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas, penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian informasi dan membaca.  
3. Pelajar 
Siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan fakta & keterampilan-keterampilan pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektif atau berfikir.  
4. Pengajar 
1. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi & menguasai kegiatan –kegiatan di kelas. 
2. Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan penguasaan pengetahuan atau gagasan. 

F. Tokoh-Tokoh Esensliasme dan Panangannya
Adapun pandangan tentang pendidikan dari tokoh pendidikan Renaisans yang pertama: 
1. Johan Amos Cornenius (1592-1670) yaitu agar segala sesuatu diajarkan melalui indra, karena indra adalah pintu gerbangnya jiwa.
2. Johan Frieddrich Herbart (1776-1841) mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebijaksanaan Tuhan artinya adanya penyesuaian dengan hukum kesusilaan. Proses untuk mencapai tujuan pendidikan itu oleh Herbart disebut pengajaran.
3. William T. Harris (1835-1909) tugas pendidikan adalah menjadikan terbukanya realitas berdasarkan susunan yang tidak terelakkan dan bersendikan ke kesatuan spiritual sekolah adalah lembaga yang memelihara nilai-nilai yang turun menurut, dan menjadi penuntun penyesuaian orang pada masyarakat.
Tokoh lainnya antara lain:
a. George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
Mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual.
b. George Santayana
Dia memadukan antara aliran idealisme dan realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan adanya kualitas tertentu. 

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Aliran esensialisme merupakan salah satu bentuk aliran yang muncul dalam filsafat pendidikan modern, dengan corak berfikirnya yang fleksibilitas, terbuka dalam perubahan, toleran dan tidak ada keterikatan dengan doktrin tertentu. Aliran ini banyak digunakan dalam lembaga pendidikan, sekalipun terdapat juga beberapa kelemahannya.


DAFTAR PUSTAKA

Idi Abdullah, Jalaluddin. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1997.
Fadliyanur. Aliran Esensialisme. http://www.blogspot.com/05/2008
http://pendidikan-infogue.com/aliran-aliran pendidikan. 
http://www.pak guru online pendidikan.net/buku tua pak guru dasar Kppd/htme//top.
http://one.indosskripsi.com / aliran-aliran pendidikan 



makalah filsafat pendidikan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah 
Filsafat Esensial merupakan filsafat pendidikan konservatif yang dirumuskan sebagai suatu kritik terhadap praktek pendidikan progresif di sekolah-sekolah, para esensialis berpendapat bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda dimana pendidikan harus nilai-nilai luhur yang tertata jelas.
Esensialisme bukan merupakan bangunan filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan terhadap pendidikan progresivisme. Pada umumnya pemikiran aliran pendidikan esensialisme dilandasi dengan filsafat tradisional idealisme klasik dan realisme. Dua aliran tersebut adalah pendukung esensialisme, namun tidak melebur menjadi satu dan tidak melepaskan karakteristiknya masing-masing. 
Esensialisme secara umum menekankan pada pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan hakikat atas setiap skema rasional untuk hakikat manusia atau realitash .  
B. Rumusan Masalah
Dengan penulisan makalah ini di harapkan: 
1. Agar kita tahu dengan pasti apa itu definisi filsafat esesnsialsme?
2. Apa yang melatar belakangi muncul dan berkembangnya pemikiran filsafat pendidikan esensialeme?
3. Konsep apa saja yang menjadi dasar pemikiran dari pendidikan esensialisme?
C. Tujuan 
1. Untuk mengetahui sebaik-baiknya tentang filsafat pendidikan esensilisme.
2. Untuk mengetahui dan memahami latar belakang munculnya Filsafat pendidikan esensialisme. 

BAB II
PEMBAHASAN

A. Aliran Esensialisme 
Esenssialisme adalah suatu filsafat dalam aliran pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah . Bagi aliran ini "Education as Cultural Conservation", pendidikan sebagai pemeliharaan kebudayaan karena dalil ini maka aliran esensialisme dianggap para ahli sebagai "Conservatif road to culture, "yakni aliran ini ingin kembali kepada kebudayaan lama warisan sejarah yang telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai, tata yang jelas. Pendapat ini dikemukakan oleh Jalaluddin dkk yang dikutip dari pendapat Zuharnini Esensialisme percaya bahwa pendidikan harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak zaman awal peradaban umat manusia, kebudayaan yang mereka wariskan kepada kita hingga sekarang, telah teruji oleh zaman, kondisi dan sejarah kebudayaan demikian ialah esensial yang mampu pula pengembangan hari ini dan masa depan umat manusia. 
Dengan artian esensialisme ingjn kembali ke masa dimana nila-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga, yang nilai itu tersimpul dalam ajaran para filosof, ahli pengetahuan yang agung, yang ajaran dan nilai-nilai ilmu mereka kekal. 
   
B. Latar Belakang Munculnya Esensialisme
Gerakan ini muncul pada awal tahun 1930, dengan beberapa orang pelopornya, seperti William C. Bagley, Thomas Brigger, Frederick Breed, dan Isac L Kandel, pada tahun 1983 mereka membentuk suatu lembaga yang di sebut "The esensialist commite for the advanced of American Education" Bagley sebagai pelopor esensialisme adalah seorang guru besar pada "teacher college," Columbia University, ia yakin bahwa fungsi utama sekolah adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah kepada generasi muda.
Esensialisme muncul pada zaman Renaisance dengan ciri-ciri yang berbeda dengan pregresivisme. Dasar pijakan aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu 
Nilai-nilai memenuhinya adalah yang berasal dari kebudayaan dan dan filsafat yang korelatif selama empat abad belakang .
Kesalahan dari kebudayaan sekarang menurut essensialisme yaitu terletak pada kecenderungan bahkan gejala-gejala penyimpangannya dari jalan lurus yang telah ditanamkan kebudayaan warisan itu. Fenomena-fenomena sosial-kultural yang tidak diingini kita sekarang, hanya dapat di atasi dengan kembali secara sadar melalui pendidikan, yaitu kembali ke jalan yang telah ditetapkan itu, dengan demikian kita boleh optimis terhadap masa depan kita dan masa depan kebudayaan umat manusia .
Essensialisme mengadakan protes terhadap progressvisme, namun dalam proses tersebut tidak menolak atau menentang secara keseluruhan pandangan proregssvisme seperti halnya yang dilakukan perenialisme. Ada beberapa aspek dari progresivisme yang secara prinsipil tidak dapat diterimanya. Mereka berpendapat bahwa betul ada hal-hal yang esensial dari pengalaman anak yang memiliki nilai esensial tersebut apabila manusia berpendidikan. Akar filsafat mereka mungkin idealisme, mungkin realisme, namun kebanyakan mereka tidak menolak epistemologi Dewey .
Esensialisme didukung oleh idelisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada, dan juga didukung oleh Realisme yang berpendapat bahwa kualitas nilai tergantung ada apa dan bagaimana keadaannya apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pola pada subjek tersebut.
Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui/ menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan peragaan senang tak senang mengenai nilai tersebut. Menurut Realisme pengetahuan tersebut terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tertentu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut Idealisme, pengetahuan timbul kerena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai-nilai yang telah teruji ketangguhannya dan kekuatannya sepanjang masa .  
   
C. Konsep Pendidikan Esensialisme 
1. Gerakan Back to Basic
Kaum esensialis mengemukakan bahwa sekolah harus melatih/mendidik siswa untuk berkomunikasi dengan jelas dan logis, keterampilan-keterampilan inti kurikulum haruslah berupa membaca, menulis, berbicara dan berhitung, serta sekolah memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan penguasaan terhadap keterampilan-keterampilan tersebut.
Menurut filsafat esensialisme, pendidikan sekolah harus bersifat praktis dan memberi pengajaran yang logis yang mempersiapkan untuk hidup mereka, sekolah tidak boleh mempengaruhi atau menetapkan kebijakan-kebijakan sosial. 
2. Tujuan Pendidikan 
Tujuannya adalah untuk meneruskan warisan budaya dan warisan sejarah melalui pengetahuan inti yang terakomulasi dan telah bertahan dalam kurun waktu yang lama, serta merupakan suatu kehidupan yang telah teruji oleh waktu yang lama, selain itu tujuan pendidikan esensialisme adalah mempersiapkan manusia untuk hidup, tidak berarti sekolah lepas tangan tetapi sekolah memberi kontribusi bagaimana merancang sasaran mata pelajaran sedemikian rupa, yang pada akhirnya memadai untuk mempersiapkan manusia hidup.  
3. Kurikulum 
Kurikulum esensialisme seperti halnya perenialisme, yaitu kurikulum yang berpusat pada mata pelajaran (subjek matter centered). Pengusaan materi kurikulum tersebut merupakan dasar yang esensialisme general education (filsafat, matematika, IPA, sejarah, bahasa, seni dan sastra) yang diperlukan dalam hidup belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin tersebut akan mampu mengembangkan pikiran (kemampuan nalar) siswa dan sekaligus membuatnya sadar akan dunia fisik sekitarnya.  

D. Peranan Guru dan Sekolah. 
Peranan sekolah adalah memelihara dan menyampaikan warisan budaya dan sejarah pada generasi pelajar dewasa ini, melalui hikmat dan pengalaman yang terakumulasi dari disiplin tradisional. Selanjutnya mengenai peranan guru banyak persamaan dengan perenialisme. Guru dianggap sebagai seorang yang menguasai lapangan subjek khusus dan merupakan model contoh yang sangat baik untuk digugu dan tiru. Guru merupakan orang yang mengusai pengetahuan, dan kelas berada di bawah pengaruh dan penguasaan guru.


E. Prinsip-prinsip Pendidikan 
Prinsip-prinsip pendidikan esensialisme yaitu: 
• Pendidikan harus dilakukan melalui usaha keras, tidak begitu saja timbul dari dalam diri siswa. 
• Inisiatif dalam pendidikan ditekankan pada guru, bukan pada siswa. Peranan guru adalah menjembatani antara dunia orang dewasa dengan dunia anak-anak, guru disiapkan secara khusus untuk melaksanakan tugas tersebut. 
• Inti proses pendidikan adalah asimilasi dari mata pelajaran yang telah ditentukan. 
• Sekolah harus mempertahankan metode-metode tradisional yang bertautan dengan disiplin mental. 
• Tujuan akhir pendidikan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan umum merupakan tuntutan demokrasi yang nyata . 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan 
Pendidikan esensialisme merupakan sebuah aliran pendidikan yang tidak pendidikan yang tidak setuju terhadap praktek-praktek pendidikan progressivisme, yang mengklaim bahwa pergerakan progressive telah merusak standar-standar intelektual dan moral diantara kaum muda.
Metode yang digunakan adalah metode tradisional yang menekankan pada inisiatif guru, guru haruslah orang terdidik dan dapat menguasai pengetahuan dan kelas semua itu harus berada di bawah penguasaan guru. 
Esensialis menginginkan agar sekolah berfungsi sebagai penyampaian warisan budaya dan sejarah yang mengandung nilai-nilai luhur para filosof sebagai ahli pengetahuan dimana nilai-nilai kebudayaan itu masih tetap terjaga dan kekal.
B. Saran
Sekedar saran dari penulis, agar para audience sekalian tidak memiliki sifat fanatic yang berlebihan, hendaknya dalam memilih berbagai konsep yang di tawarkan dalam dunia filsafat kita harus bisa mencerna dan membuat semacam konsep baru yang kemudian tidak hanya berpaku terhadap satu konsep filsafat, karena berbagai konsep yang di tawarkan oleh para filsuf semuanya adalah hasil pemikiran yang sudah di buktikan kebenarannya melalui berbagai eksperimen dan uji coba.  
DAFTAR PUSTAKA

- Sadullah, Uyah. Pengantar Filsafat Pendidikan, CV. Alfabeta, Bandung.2003

- Noor Syam, Muhammad, Filsafat Kependidikan dan Dasar Filsafat Pancasila, Usaha Nasional, Surabaya, 1988. 

- Jalaluddin dan Abdullah idi, filsafat pendidikan manusia, filsafat, dan Pendidikan, Ar-ruzz media Group, Jogyakarta, 2007

- www.Google.co.id  





   




makalah al-Qur'an hadist


BAB I
PENDAHULUAN

Tanggung jawab adalah orang yang berani menanggung akibat dari yang dilakukannya atau yang diperbuatnya. Setiap manusia harus memiliki sikap tanggung jawab karena semua perbuatan pasti dimintai pertanggung jawaban kelak dihadapan Allah. Tanggung jawab merupakan modal utama untuk melakukan kegiatan sehari hari. ada 3 macam tanggung jawab yaitu : tanggung jawab terhadap diri sendiri, tanggung jawab terhadap keluarga dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Tiga tanggung jawab tersebut sudah melekat dalam diri manusia tetapi yang lebih utama adalah tanggung jawab terhadap diri kita sendiri, karena kita nantinya akan bertanggung jawab pada diri kita sendiri dan kepada Allah.

Landasan Pemikiran
Tanggung jawab merupakan suatu tanggungan bagi seseorang yang berani menggung akibat dari semua yang telah dilakukannya. Tanggung jawab sangat dibutuhkan dan diperlukan oleh setiap diri manusia, karena sifat dan sikap tanggung jawab merupakan suatu yang dapat membentuk suatu kepribadian menjadi seorang muslim yang paripurna dan sempurna, baik secara rohani maupun secara jasmaninya, karena pada hakekatnya bahwa semua manusia itu adalah seorang pemimpin, minimal memimpin dirinya 


BAB II
PEMBAHASAN

1. Tanggung Jawab Terhadap Dirinya Sendiri
Sebagai individu setiap muslim berkewajiban untuk membentuk dirinya menjadi seseorang muslim yang paripurna, sehingga bernilai "insanul kamil" yang dapat merealisir fungsi hidupnya tadi, baik sebagai abdi Allah maupun sebagai Khalifah Allah.
Sebagai abdi Allah setiap muslim harus menegakkan pengabdian kepada Allah yang bersifat nandhoh (khusus) dalam struktur vertikal antara pribadinya sebagai abdi terhadap Allah selaku ma'bud seperti: sholat, puasa, dzikir, doa dan sebagainya. Sedangkan dalam sisi sosialnya setiap muslim harus berbuat kebajikan terhadap sesama manusia yang merupakan ibadah (ghai mananon) dalam struktur horisontal yakni dalam hubungan antara pribadi dengan sesama manusia.
Setiap pribadi muslim menjadi "shalihul mushlieh" yakni orang yang soleh dan selalu berbuat kebajikan dengan mengajak sesama manusia untuk mentaati dan mengabdi serta berbakti kepada allah. Menjauhkan dirinya dari sifat 'dholim mudhilun" yang sesat dan menyesatkan terhadap sesama muslim.

2. Tanggung Jawab Terhadap Keluarga
Setiap anggota rumah tangga atau keluarga, setiap pribadi muslim berkewajiban untuk membangun rumah tangganya sehingga menjadi rumah tangga atau keluarga yang sejahtera dan bahagia lahir bathin. Dimana suasana harmonis dan ketentraman hidup (assakinah) tercipta di dalamnya.
Pembangunan rumah tangga atau keluarga sejahtera dan bahagia ini merupakan kewajiban yang kedua setelah pembinaan terhadap diri pribadi, dan pembangunan rumah tangga ini merupakan langkah utama dalam pelaksanaan hubungan pergaulan sosial (kemasyarakatan) atau hablumminannas.
Kewajiban untuk pembangunan rumah tangga ini mrnjadi kewajiban yang mutlak untuk dilaksanakan oleh setiap muslim, sebab secara fitrah manusia itu tidak bisa melepaskan diri dari contex rumah tangga atau keluarganya.

3. Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat.
Setiap Muslim harus menyadari, bahwa dirinya itu hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak boleh melepaskan diri ikatan dan hubungan dengan sesamanya sebagai makhluk sosial, setiap muslim kewajiban untuk memelihara ketentraman dan perdamaian hidup masyarakatnya, sehingga terwujudlah satu situasi kehidupan masyarakat yang sejahtera dan bahagia
Setiap Muslim tidak boleh bersikap masa bodoh dan acuh tak acuh, terhadap perkembangan masyarakat disekelilingnya. Bahkan sebaliknya ia harus aktif dan giat dalam mengikuti setiap perkembangan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, dan selalu memberi warna terhadap situasi kehidupan masyarakat tersebut, sehingga di dalam setiap kegiatan kehidupan masyarakat selalu dampak keislamiyahnya.
Hadits Bukhari Muslim tentang tanggung jawab
كلّكم راعٍ وكلكم مسؤل من رعيّته فالإماوراع وهو مسؤل عن رعيته رجل راع فى اهله وهو مسؤل عن رعيته والمرأة راعية فى بيت زوجها وهي مسؤلة عن رعيته. والخادم راع فى مال سيده وهو مسؤل عن رعيته وكلكم مسؤل عن رعيته (رواه البخارى ومسلم) 
Artinya: "kamu semua adalah pemimpin, dan kamu semua adalah bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Maka seorang imam (pemimpin) adalah sebagai pengembala yang akan di tanya tentang kepemimpinannya. Dan seorang laki-laki (suami) adalah sebagai pimpinan dalam keluarganya dan ia akan di tanyakan tentang kepemimpinannya.dan seorang wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya yang ia akan di tanyakan tentang hasil pimpinannya.seorang pembantu (pelayan asisten) adalah menjadi pemimpin dalam mengawasi harta benda tuanya, dan ia bertanggung jawab (akan di tanyakan) dari hal pimpinannya. Dan seorang anak adalah pengawas harta benda ayahnya yng ia akan di tanyakan tentang hal pengwasannya. Maka kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan di tanyakan tentang perhatiannya. (h.r.bukhori muslim)


"PENJELASAN"
Setiap Muslim dalam kehidupannya di dunia ini baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial dalam rangka menjalani fungsi hidupnya sebagai abdi Allah dan khalifah Allah di muka bumi ini mempunyai tiga macam tanggung jawab hidup yang prinsipal yaitu:  
1. Tanggung jawab terhadap diri sendiri 
2. Tanggung jawab terhadap keluarga
3. tanggung jawab terhadap masyarakat
Ketiga tanggung jawab tersebut merupakan pokok kehidupan yang mempunyai hubungan korelatif yang timbal balik dan saling kuat menguatkan, sehingga antara kewajiban yang satu dengan yang lainnya kait meng-kait dan sangat erat jelinannya. Untuk lebih Jelasnya tentang tiga tanggung jawab tersebut dapat di uraikan sebagai berikut:


BAB III
SOLUSI
Setiap umat Islam mempunyai tanggung jawab besar terhadap diri sendiri masyarakat dan sekeluarga, karena setiap mukmin bisa menjadi seorang pemimpin dalam keluarga dan masyarakat. Telah banyak tercantum dalam al-Qur'an mengenai tanggung jawab
Tanggung sangat diperlukan karena apabila seseorang tidak punya tanggung jawab maka dalam setiap kejadian pasti tidak akan bisa di selesaikan.
Tanggung jawab sangat diperlukan untuk melangsungkan kehidupan sehari-hari dalam keluarga, dan bermasyarakat. Seseorang yang mempunyai tanggung jawab akan mudah di percaya oleh orang lain karena dengan tanggung jawab sangatlah utama. Seseorang yang tidak bertanggung jawab pasti akan lari dari masalah yang sedang dihadapi. Dan Allah sangat membenci seseorang yang lari dari masalah karena orang tersebut termasuk orang yang pengecut

KESIMPULAN

Setiap umat Islam memiliki tanggung jawab yang besar baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap umat Islam seluruhnya untuk menjaga dan memelihara agar menjauhkannya dari api neraka, tanggung jawab tersebut dibagi menjadi 3 yaitu:
1. Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri 
2. Tanggung jawab terhadap keluarga
3. Tanggung jawab terhadap keluarga
Pada hakikatnya kita semua adalah seorang pemimpin, minimal memimpin diri sendiri yang akan di minta pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT. Kalau ayat dan hadits tersebut telah disosialisasikan dengan benar dan penuh tanggung jawab, maka insya Allah kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.



BAB IV
PENUTUP

a) Kritik dan saran
Dengan adanya kritik dan saran ini, berarti makalah yang telah kami susun telah selesai, namun tentunya makalah ini tidak akan luput dari kesalahan baik dari kesalahan pengetikan maupun kata-kata. Oleh karena itu, kami ucapkan yang se besar besarnya, apbila terdapat suatu kesalahan saya mohon saran dari teman-teman agar makalah ini dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh semua para teman-taman. 

  




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Belakangan ini masyarakat dunia dihantui rasa khawatir karena banyak peristiwa dan aksi kekerasan yang muncul seperti anarkisme perang, hingga terorisme global. di Indonesia, kasus berbeda tapi serupa juga tidak sedikit bisa dijumpai. Hal itu tampak seperti dalam berbagai kasus konflik dan anarkisme akibat perbedaan pandangan, pendapat, pikiran ideologi, etnik dan bahkan agama yang selalu saja muncul ditengah-tengah kondisi bangsa yang hingga kini terus didera masalah dan krisis berkepanjangan diberbagai bidang kehidupan, termasuk krisis dalam dunia pendidikan.
Dalam dunia pendidikan misalnya tantangan yang dihadapi bukan pekerjaan yang ringan dan mudah tetapi sangat komplek. Kompleksitas masalah tersebut dapat dilihat dari berbagai dimensi diantaranya adalah rendahnya kualitas mutu pendidikan nasional, gonta-gantinya kurikulum dan masalah ujian nasional, hingga ancaman tantangan dan peluang mewujudkan "masyarakat damai" melalui instansi pendidikan.
Melihat "benang kusut" dunia pendidikan seperti itu, tentu semua pihak, baik pemerintah maupun pihak lainnya perlu segera memikirkan dan mencari solusi alternatif atas ruwetnya problematika pendidikan di Indonesia.

B. Rumusan Masalah
• Apa yang dimaksud dengan konsep peace education ?
• Siapa saja sasaran konsep peace education ?
• Apa yang perlu dilakukan guna mengubah budaya kekerasan kedalam bentuk budaya damai.



C. Tujuan 
• Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan konsep education 
• Untuk mengetahui siapa saja sasaran konsep education
• Untuk mengetahui apa yang perlu dilakukan guna mengubah budaya kekerasan kedalam bentuk budaya damai
 
BAB II
PEMBAHASAN

Dalam kontek nasional kita sebagai bangsa masih lemah dilihat dari banyak aspek yang nyata-nyata lemah salah satunya bidang pendidikan. Kualitas pendidikan bangsa ini sebagai mana hasil publikasi the political and economic risk consultary (PERC) menunjukkan fakta demikian . Apalagi ditambah dengan banyaknya konflik yang terjadi di belahan bumi Indonesia, misalnya kasus di Maluku, Ambon, Aceh, sebagai bangsa barbar dari pada bangsa yang beradap 
Transformasi karakter dan budaya manusia hanya bisa dilakukan dengan perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir ke arah perdamaian hanya dapat dilakukan dengan pendidikan perdamaian (peace aducation) .
 
A. Pengertian 
Sebelum memasuki uraian tentang konsep peace education itu sendiri tidak ada salah nya bila kita membahas apa kosep itu dan apa pula yang dimaksud peace education.
Konsep ialah definisi sedangkan definisi ialah pengertian atau semua penyebutan ciri esensi suatu obyek dengan membuang semua ciri eksidensinya. Ciri esensi ialah ciri pokok, sedangkan ciri eksidensi ialah ciri yang tidak pokok. Ciri eksidensi boleh ada boleh tidak, tidak mengganti ada tidaknya obyek itu .
Sedangkan peace education yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pendidikan perdamaian, menurut Prof Siu, tersusun dari dua kata yaitu pendidikan dan perdamaian. 
Di bawah ini disajikan beberapa pengertian dan pendidikan (peace education): 
1. Peace education ialah sebuah proses untuk mendapatkan pengetahuan dana pengembangan sikap, dan tingkah laku untuk tidak dalam keharmonisan dengan orang lain. 
2. Peace education ialah model pendidikan yang mengupayakan pemberdayaan masyarakat agar mampu mengatasi konflik atau masalah nya sendiri dengan cara kreatif dan tak dengan cara kekerasan 
3. secara esensial, peace education ialah pendidikan yang mengajarkan rasa saling menghargai, mencintai , fairness, dam keadilan. Hal ii segala dengan rumusan pemikir pendidikan asal Amerika serikat. Ian hafi, bahwa "peace education is based on a philosophy that teachers nonviolence,. Love, compassion, trust, folirness. Cooperation and reverence for the human family and all rife on our plomet."  
   
B. Konsep Peace Education
Upaya mewujudkan masyarakat damai yang harmonis merupakan tanggung jawab bersama, termasuk pendidikan. sebab, pendidikan mempunyai peran yang sangat vital tak saja sebagai transfer of knowledge, tetapi juga sebagai "ruru damari" hal ini pening km akhir-akhir ini sering muncul konflik sosial dan kekerasan yang mengakibatkan masyarakat resah, takut, cemas, dan tak lagi merasakan suasana damai. Damai seolah menjadi "impian " bagi banyak orang terutama bagi mereka yang berada didaerah konflik seperti di Papua, Aceh, Ambon, dan Poso .
Fenomena tersebut juga mengajarkan betapa pentingnya pendidikan perdamaian (peace education) untuk diajarkan di dalam dunia pendidikan. Pendidikan perdamaian ini berdasarkan pada filosofy yang mengajarkan anti kekerasan, cinta, perasaan saling menyakini, percaya, keadilan, kerja sama. Saling menghargai dan menghormati sesama mahluk hidup di dunia ini. Hal ini adalah praktek sosial dengan nilai berbagai dimana sikap orang bisa memiliki kontribusi yang signifikan .
Mengapa model pendidikan perdamaian perlu dikembangkan dan diberlakukan? Salah satu alasan mendasar adalah sejarah yang mengandung konflik di negara ini yang selalu berujung dendam, bukan damai. Bila kita mau menengok sejarah Indonesia, maka realitas konflik sosial yang terjadi sering kali mengambil bentuk kekerasan sehingga mengancam persatuan dan eksistensi bangsa. Tanpa pendidikan perdamaian, maka konflik sosial yang destructive akan terus menjadi suatu ancaman yang serius bagi keutuhan dan –persatuan bangsa .
Bagi daerah yang tertimpa konflik, pendidikan perdamaian bisa diarahkan pada tiga segment besar masyarakat, yaitu:  
1) Mantan combatan
Untuk mantan combatan baik laki-laki maupun perempuan, pemerintah melalui Dinas pendidikan dan Dinas Sosial bisa berperan untuk memberikan materi pendidikan perdamaian dengan mengandung kelompok masyarakat sipil yang konsep terhadap peace building  
2) Aparatur pemerintah terutama polisi dan tentara
Pendidikan perdamaian operator pemerintah bisa dilakukan oleh instansi terkait bekerja sama dengan kalangan akademisi. 
3) Masyarakat biasa
a. Anak- anak 
Pendidikan perdamaian untuk anak-anak bisa dilakukan melalui sekolah-sekolah dengan memasukkan kurikulum pendidikan perdamaian ke kurikulum instansi pendidikan umum maupun agama, misalnya dalam bentuk muatan local. Di sinilah kemudian dinas pendidikan memainkan peranannya  
b. Laki-laki dewasa
Pendidikan perdamaian untuk laki-laki bisa dilakukan misalnya melalui forum-forum pengajian di madrasah-madrasah dan musyawarah gampang. Disini diharapkan dinas sosial bekerja sama dengan lembaga agama atau adat bisa mempermainkan peranannya
c. Perempuan dewasa
untuk perempuan, pendidikan perdamaian bisa dilakukan melalui forum pengajian perempuan atau penyuluhan langsung dilapangan, disini, kelompok masyarakat sipil yang sudah terbiasa dengan program gender mainstreaming bisa memainkan perannya. 
Secara global, konsep pendidikan perdamaian perlu dilaksanakan dalam tingkat: individu, keluarga, masyarakat, dan dunia, konsep pendidikan perdamaian ini juga mengarah pada pemberdayaan masyarakat melalui skill, attitudes, and knowledge: to build, maintain, and restore relationships at all levels of human interaction, to develop positive approaches towards deating with conflicts-from the personal to the internasional, to create safe environments, both physically and emotionally. That nurtures each individual, to create a safe world and pustice and human rights, to build a sustainable and protect it from exploitation and war. 
Selanjutnya, untuk mendesain pendidikan perdamaian secara praktis operasional tentu tak mudah. Tetapi, paling tak mau mencoba atau memiliki potical will untuk mendesainnya sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan damai yang relevan dengan kondisi dan situasi masyarakat kita adalah langkah awal yang perlu di lakukan. Pendidikan moral pancasila atau kewiraan, kepramukaan dan ke warga negaraan (civic education) sesungguhnya dilakukan sebagian dari proses usaaha membangun cara hidup damai saling hormat-menghormati untuk memperkuat wawasan kebangsaan (nasional). Singkat nya penting peran pendidikan perdamaian adalah mendukung people power untuk membangun perdamaian.  

C. Agenda Peace Education Era Millenium
Perwarahan bumi Indonesia menjelma sebagai mimpi buruk tatkala berbagai konflik yang penuh dengan kekerasan bertebaran di belahan bumi Indonesia. Budaya timur yang diidentikkan dengan keramaian. Toleransi, ke gotong royong, kasih sayang, santun, dan seabrek nilai baik lain seperti nya telah terkubur dalam perut bumi terdalam . Apa yang harus di benahi guna mengembalikan citra Indonesia yang terlanjur buruk dalam kancah dunia internasional? Ada empat arti kekerasan. Keempat tingkat itu (http,// www. Peace. Ca/ mgmtnote.hlm) meliputi:  
1) Knowledge (change knowledge)
2) Aktitude (change aktitudes- miutivation)
3) Individual (change individual bahaviur)
4) Group (ordazational) behayior (change group behavior)
Apa yang harus kita perbuat pada tahun 2 mendatang demi kedamaian
Pertama: Perdebatan untuk menjadi individu yang baik, yaitu orang yang mengatasi untuk kebaikan secara keseluruhan itu merupakan pola perilaku yang di bangun dari kebaikan-kebaikan individu. 
Kedua: Membangun kembali nilai-nilai figuritas dimana elite politik sosial sebagai tempat bercermin, karena, akhir-akhir ini hampir semua ini cermin itu telah retak yang menyebabkan wajah sendiri tak enak dipandang.
Ketiga: Apabila kita dapat menciptakan sejarah, jadilah pribadi yang unggul.
Keempat: Mengembalikan orientasi kerja elite politik dan elite pengusaha kemisi penularan tugas pokok dan fungsinya, bukan menuntut hal-halnya. Untuk perlu ada kejujuran. Moralitas yang baik, dan memiliki kinerja yang pantas menjadi panutan. 
Pendidikan untuk perdamaian dunia hanya mungkin terwujud didalam suatu pendidikan yang dimulai di dalam masyarakat local yang berbudaya. Pendidikan perdamaian hanya sebuah contoh kecil dari upaya membangun pintu masuk bagi perbedaan dalam rangka menghadirkan sebuah perdamaian Indonesia yang luhur. Pendidikan kita akan melahirkan generasi baru Indonesia yang mampu mengafirmasi secara positif dan melihat sesamanya secara par cum pari (setara), semoga…! 


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
• Konsep ialah definisi. Sedangkan definisi adalah pengertian atau penyebutan semua ciri esensi suatu obyek dengan membuang semua ciri eksidensinya. Peace Education ialah sebuah model pendidikan yang mengajarkan arti kekerasan, cinta, perasaan saling mengasihi, percaya, keadilan kerja sama, saling menghargai dan menghormati sesama makhluk hidup di dunia ini.
• Secara global, konsep peace education perlu ditanamkan dalam tingkat. Individu. Keluarga, masyarakat dan dunia. Namun, bagi daerah yang tertimpa konflik, konsep education bisa di arahkan pada tiga sidemen besar polisi dan tentara, dan masyarakat biasa.
• Ada empat tingkatan guna mengubah budaya kekerasan kedalam bentuk damai dan anti kekerasan, yaitu: meningkatkan pengetahuan, dorongan dalam mengubah kelakuan, mengubah kelakuan pribadi, mengubah kelakuan psfgerkelompok.

B. Saran
Seperti yang telah diuraikan tadi di awal bahwa pendidikan perdamaian (peace education) bukan satu-satunya cara dalam membangun pintu masuk bagi perbedaan dalam rangka menghadirkan sebuah perdamaian. Oleh karena itu, kita sebagai makhluk yang berfikir perlu mengupayakan pintu lain guna membuka perdamaian melalui pendidikan, khususnya dan dalam aspek lainnya pada umumnya.  
 

DAFTAR PUSTAKA


Danim, Sudarwan. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003

Daryanto. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Renata Cipta, 2005.

Muhatmin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi. Jakarta: PT Raja Grafinda Persada, 2007.

Suyanto. Dinamika Pendidikan Nasional dalam Peraturan Dunia Global. Jakarta : Pusat Studi Agama dan Peradapan (PSAP), 2006.

Trlaar. Paradigma Baru Pendidikan Nasional . Jakarta: PT Rinata Cipta, 2000.






























LAMPIRAN

Akbar Metrid, Urgensi Pendidikan Perdamaian di Aceh. http: // www. Adetinstitute-Akbar-2505007- urgensi –pendididkan- di-aceh. Htm, 25 mei 2007.

Chirul Mahfud, Mengembangkan Model Pendidikan Perdamaian

Izak Lattu, Kemendesakan. Pendidikan Perdamaian Agama-Agama (http: // izakthl. Edublogs. Org /

Ridwan al-makassary, Peace Building untuk masyarakat Indonesia poska konfik: suayu kerangka konseptual untuk aksi (http: / www. Csrc. Or. Id / artikel / index. Php? Detail= 072303011312, 23 maret 2007 ) 

Yosi Arbianto, Ide Dari Konflik Ambon Yang Tak Kunjung Usai (http://www. Jawapos. Co. id / radar / index. Php? Act = detail& rid = 18040,7 Agustus 2008)

http://bima-esw. Org/INDONESIA/Pendidikan / pnddkn-htm




puisi cinta


bagaimana kita bisa melupakan dirimu kalau bayanganmu selalu hadir dalam mimpi manisku

sayang bila cinta itu sampah pabrik jadikanlah diriku ini pembersih pabrik.

pe2k sumenep. 05 November 2009


Senin, 02 November 2009